Hubungan Ala Sugar Baby-Sugar Daddy: Apa Perbedaan Antara Sugar Baby dan Prostitusi?

Share this article with other mums

Seorang perempuan berbagi mengenai pengalamannya berkencan lewat situs jejaring daddy website.

Saat Anne* membuka situs jejaring profil sugar daddy/sugar baby yang populer di negaranya, ia sebetulnya sedang sedang muak dengan gambaran tentang berkencan pada umumnya. “Saat itu saya berumur 21 tahun dan baru saja memutuskan hubungan sangat beracun, dan saya betul-betul tak ingin mengulanginya lagi,” katanya.

Tapi dia tidak ingin sepenuhnya mengusir laki-laki dari kehidupannya. “Saya masih mau kok berkencan, tapi saya tidak mau apapun yang berbau serius,” jelasnya. “Saya sudah mencoba Tinder dan OkCupid pada awalnya, namun laki-laki yang saya temui di sana berkisar antara dua tipe—ingin langsung bercinta, atau menginginkan relasi serius dan berpotensi berakhir dalam biduk rumah tangga.”

Setelah tak sengaja masuk ke situs sugar dating, rasa penasaran Anne mulai membuncah. Ia meng-klik apa saja yang ada di dalam situs tersebut untuk mencari tahu lebih dalam, dan berpikir kalau sepertinya gaya ini akan cocok untuknya.

“Ada banyak sekali tabu yang menguar di sekitar gaya hidup sebagai seorang sugar baby atau Ayam Kampus, namun apa yang pahami adalah oom-oom di sana biasanya hanya mencari teman untuk menemaninya dan keintiman tanpa harus dibuat ribet dengan tetek bengek hubungan ‘yang sebenarnya’, kata Anne. “Sebetulnya semua tampak sempurna bagi saya pada awalnya.”

Keuntungan dan perangkap gaya hidup sugar baby

Anne berakhir dengan mengencani banyak laki-laki di situs ini, dan sekalipun dia tidak mengejar uang, mereka menghujaninya dengan hadiah-hadiah. Salah satu sugar daddy-nya, seorang ekspatriat Prancis, bahkan membelikannya tiket penerbangan ke Tokyo untuk liburan akhir pekan hanya karena ia suka melakukannya.

“Mereka tampak sungguh-sungguh menikmati jika bisa memberikan hadiah-hadiah mahal pada saya,” katanya. “Tas tangan buatan desainer ternama, sepatu, make-up—pokoknya semua hal. Beberapa dari mereka bahkan memberikan saya uang. Awalnya saya mengembalikan cek mereka, namun ternyata mereka langsung mendepositokannya ke dalam akun PayPal saya. Dan jujur nih ya, saya nggak bisa menolaknya!”

Anne tetap menutup rapat-rapat mulutnya mengenai hubungan ini; ia sebetulnya pernah menceritakannya kepada satu temannya, dan ternyata tidak cukup siap untuk menerima reaksi yang ditimbulkan temannya.

“Dia pada dasarnya mengatakan bahwa saya sudah melacurkan diri, dan pernyataannya sungguh menyakiti hati saya,” kata Anne. Bahkan pada hubungan tipikal pacaran yang biasanya berlaku, satu pihak biasanya akan memanjakan pihak lainnya dengan banyak hadiah dan dukungan finansial, tapi nggak ada yang pernah ngomong apapun tentang hal ini. Kenapa situasi saya bisa dikatakan berbeda?”

Apa perbedaan antara sugar baby dan prostitusi?

Sekalipun Anne tidak menjadi sugar baby demi alasan uang, banyak di luaran sana yang memakai alasan tersebut. Menurut SeekingArrangment, sugar daddies (atau mommies) biasanya adalah laki-laki dan perempuan kaya yang sudah berada pada tahap tidak punya kendala keuangan, “karenanya mereka begitu murah hati saat memberikan dukungan untuk Sugar Baby.” Sementara, para sugar baby sendiri merupakan individu yang sedang mencari “bimbingan, dukungan finansial, atau hubungan pertemanan pada umumnya di bawah kesepakatan yang sudah disetujui sebelumnya.”

Batas antara sugar babies dan apa yang dikatakan sebagai profesi tertua sedunia sesungguhnya kurang jelas, namun memang ada beberapa pembeda yang memisahkannya, antara lain:

  • Seks biasanya tidak langsung secara terbuka didiskusikan dalam dinamika hubungan sugar baby-sugar daddy. Bagi beberapa orang, seks sudah pasti bukan bagian dari harapan, namun juga bukan menjadi prasyarat. Banyak oom-oom sugar yang hanya sekedar menginginkan seseorang yang dapat mendukung mereka secara emosional.
  • Para pelacur dan pelanggan mereka berhubungan satu sama lain melalui transaksi—sejumlah besaran uang untuk ditukarkan dengan jasa-jasa tertentu. Sementara itu, sugar daddies memberikan dukungan bagi sugar babies pada satu rentang waktu tertentu. Biasanya, mereka akan memberikan tunjangan-tunjangan, namun beberapa dari mereka mendukung sugar babies dengan cara lain, seperti membayar biaya kuliah atau kos-kosan mereka.
  • Beberapa hubungan kemudian berubah menjadi relasi sejati dan bahkan hingga tahap pernikahan—suatu hal yang jarang terjadi antara pelacur dan pelanggan.  

Apakah sugaring dan prostitusi adalah hal serupa? Bisa jadi, tapi jika dilihat lebih dekat ternyata sungguh berbeda. Sekalipun gaya hidup bertabur rasa manis ini bukan untuk semua orang, beberapa pasangan menemukan kalau hubungan sugar babies dan sugar dadies ini mirip dengan hubungan cowok-cewek pacaran, dengan pengaturan hubungan yang saling melengkapi dan menguntungkan satu sama lain.

* nama telah diubah untuk melindungi privasi

Perjalanan Hidup Single