Obrolan Finansial Sebelum Menikah: 6 Kesepakatan dengan Pasangan

Share this article with other mums

Apakah anda yakin dengan keputusan anda?

Setelah tiga tahun berpacaran, Paula (26 tahun) merasa bahwa ia dan kekasihnya, Warren siap untuk ke jenjang berikutnya. “Saya pikir kami telah mengenal satu sama lain seutuhnya,” ujar Paula. “Kita bahkan sudah seperti suami-istri.”

Namun tidak lama setelah bertunangan, Paula mulai mencurigai ada yang keliru. Beberapa barang di apartemen Warren mulai menghilang satu demi satu. Kartu kredit Warren ditolak saat transaksi di restoran. Bahkan pernah, Paula kehilangan uangnya di dalam dompet setelah ia menarik tunai sejumlah uang yang tidak sedikit.

Paula akhirnya mengetahui bahwa Warren memiliki kebiasaan berjudi dan terlilit hutang. Mereka pun akhirnya menunda pernikahan. Satu bulan berikutnya, mereka pun memutuskan berpisah. Hal positifnya, Paula akhirnya tahu dan tidak perlu menikah dengan Warren serta kebiasaan buruknya itu, namun tidak semua perempuan seberuntung Paula.

Meskipun anda dan pasangan tidak mengalami kesulitan finansial seburuk Warren, namun mendiskusikan persoalan keuangan sebelum menikah adalah hal yang sangat penting. Daftar pertanyaan berikut dapat menjadi bahan obrolan dan diskusi anda dengan pasangan sebelum memutuskan menikah:

1. Bagaimana situasi keuangan anda?  

Saat anda masih single, anda mungkin tidak begitu peduli berapa banyak jumlah saldo di bank, investasi yang telah anda rencanakan dan situasi cicilan anda. Tetapi saat anda memutuskan komitmen jangka panjang bersama dengan pasangan dan menikah, situasinya jelas akan berbeda.

Bicarakanlah situasi keuangan anda hari ini dan di masa lalu. Jika anda pernah membuat sebuah keputusan finansial yang keliru di masa lalu, anda dapat membicarakannya dengan pasangan dan move on. Sebelum itu semua menjadi konflik, anda dan pasangan harus sama-sama membuka aib masing-masing mengenai hal ini.

2. Apa yang menjadi target finansial anda?

Gambaran anda mengenai keuangan yang sukses bisa jadi berbeda dengan pasangan. Dia bisa saja cukup bahagia dengan terpenuhinya kebutuhan, sedangkan anda baru akan merasa aman saat kondisi finansial tidak membuat anda bangkrut.

Bicarakan dengan pasangan target jangka pendek dan jangka panjang kondisi finansial. Rumah idaman apa yang anda inginkan? Di manakah anda ingin tinggal setelah menikah? Di usia berapa anda ingin pensiun? Dengan membicarakan dan memilah target-target tersebut, anda akan bekerjasama untuk mencapainya.

3. Apakah yang menjadi harapan-harapan anda?

Apakah suami anda berharap anda berperan sebagai ibu rumah tangga dan mengelola keuangan keluarga di saat ia bekerja, karena itu lah yang ia pelajari dari orang tuanya dulu? Mungkin anda berharap lain. Bahwa keluarga anda mestinya ditopang oleh dua pemasukan istri dan suami karena dengan begitu, gaya hidup anda terpenuhi. Bicarakan ekspektasi anda masing-masing –namun penting untuk tetap berpikiran terbuka.

4. Perlukah membuka akun bank bersama?

Millennials cenderung terbuka untuk membuat akun bank bersama pasangan. Beberapa bahkan telah memulainya sebelum menikah. Menurut TD Bank, 70% millennials menunggu sampai menikah untuk membuka akun bank bersama, sedangkan 88% generasi sebelumnya menunggu sampai menikah untuk hal itu.

Membuka akun bank bersama tentu memiliki pro dan kontra, dan anda berdua harus sama-sama memahami konsekuensinya. Pelajari lebih di artikel Haruskah Pasangan Menikah Memiliki Rekening Bank Bersama, atau Terpisah?

5. Bedakan keinginan dengan kebutuhan

Apakah anda merasa seperti membutuhkan sebuah tas desainer ternama sehingga anda terlihat menarik di kantor? Apakah pasangan anda berpikir bahwa anda harusnya tinggal di lingkungan mewah?

Alasan di balik pertanyaan di atas sah-sah saja, namun pahamilah prioritas anda dan pasangan. Temukan apa yang menjadi alasan anda dan bagaimana pentingnya anda mengkompromikan hal tersebut.

6.Bagaimana menurut anda tentang perjanjian pra-nikah?

Baiklah, kita sama-sama mengerti ketika membicarakan perjanjian pra-nikah sepertinya perasaan campur-aduk, namun anda juga perlu realistis. Meskipun anda tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi ke depannya, namun belajar dari pengalaman perceraian banyak pasangan yang tidak memiliki perjanjian pra-nikah justru akan semakin menyulitkan.

Mumpung anda belum memikirkan dan tidak ingin perceraian terjadi, tetap penting dan masuk akal untuk setidaknya mendiskusikan tentang perjanjian pra-nikah ini kepada calon suami anda.

* * *

Pernikahan tidak selalu asyik dan menyenangkan. Faktanya, bahkan memang pernikahan sebagian besar tidak demikian. Dibutuhkan kerja keras, namun memiliki pasangan yang tepat akan memudahkan segala sesuatunya. Anda tidak perlu mengalami patah hati di masa depan. Pastikan anda dan calon suami bekerjasama. Jalannya tidak selalu mulus, tapi anda tahu bahwa akan ada seseorang yang menopang, dan itulah yang membuat semuanya berbeda.

* nama diubah untuk kepentingan privasi.

 

Indonesia Perjalanan Hidup Menikah