Metode Cost Per Wear (Biaya Per Pemakaian): Apa dan Mengapa Pakaian Yang Anda Kenakan Semakin Mahal Harganya

Share this article with other mums

Kami punya satu fakta menarik yang mungkin akan mengusik pikiran Anda: baju murah yang Anda beli di toko kemarin ternyata tak cukup membantu upaya penghematan. Kami bisa membuktikannya melalui metode cost per wear atau biaya per pemakaian.

Sudah cukup lama saya menjadi korban fashion. “Kuantitas melebihi kualitas” menjadi mantra yang saya rapalkan setiap kali menjelajahi deret etalase H&M dan Forever 21 untuk mencari penawaran menarik. Sekalipun tak ada yang salah dengan brand tersebut—beberapa barang kesayangan saya merupakan produk hasil fast fashion—Saya telah cukup belajar bagaimana label harga tidak selalu berarti bahwa pakaian tersebut merupakan hasil penawaran terbaik.

Mengapa? Karena, jangan pernah lup untuk turut mempertimbangkan faktor seberapa lama masa pakai yang dihabiskan sepotong pakain yang Anda beli. Metode ini dikenal sebagai metode perhitungan per pemakaian /CPW, dan formula menghitungnya sangatlah mudah:

CPW = Jumlah total harga pakaian/Jumlah hari pemakaiannya

Pada dasarnya, menghabiskan Rp 1,5 juta untuk sepotong jeans mungkin terdengar tak masuk akal, namun kalau ternyata Anda bisa memakainya hingga 200 kali kesempatan, maka harganya menjadi cuma Rp 7.500,- per potong, dan jatuhnya menjadi sangat murah. Coba deh dipikirkan kembali, jangan sampai Anda membeli sepotong jeans berkualitas rendah seharga Rp 300.000 dan hasilnya hanya akan terpakai beberapa kali sebelum akhirnya sobek-sobek di mesin cuci. Hal ini membuktikan bagaimana pakaian murah ternyata lebih banyak membebani Anda.

Untuk membantu Anda membeli produk yang sepadan dengan jumlah uang yang Anda keluarkan, berikut adalah beberapa hal yang wajib dicatat.

1. Apakah cukup wearable alias nyaman dengan gaya kita?

cost per wear method metode cost per wear

Kadang kala, kita membeli pakaian yang sama sekali tidak cocok untuk kita, namun semata-mata guna memenuhi ide yang sesungguhnya nggak ada maknanya. Jika Anda adalah tipe perempuan yang nyaman mengenakan jeans dan T-shirt, Anda mungkin tak akan terlalu sering menggunakan dress dengan material sequin.

Dan jangan gampang terbawa label sale. Sekalipun jaket kulit paten yang dipajang di etalase tersemat tanda “diskon 70%”, tapi ternyata di lemari pakian Anda tak ditemukan pasangan padu-padannya, maka mungkin pembelian ini sebetulnya kurang menguntungkan.

2. Lakukan pengecekan kualitas

Banyak pakaian yang beredar di masa kini terbuat dari material murahan yang terlalu gampang berhamburan di dalam mesin cuci. Coba cek labelnya untuk mengetahui instruksi perawatan material pakaian (jika tertera tulisan “dry clean only”, cobalah berpikir dua kali). Sebagai pengecekan terkahir, coba lihat dan rasakan bahannya. Jika rasanya terlalu kasar dan gatal di kulit, segera kembalikan ke dalam rak dan berlalulah.

Jangan lupa mengecek jahitannya. Jika tampak dikerjakan secara sembrono, ada kemungkinan pakaian ini tidak akan bertahan lama.

3. Pikirkan terlebih dahulu

Jika saya menemukan barang yang saya sukai namun sebetulnya tak terlalu saya butuhkan, saya biasanya pulang dulu dan mempertimbangkannya masak-masak di rumah. Jika dalam sehari atau dua hari saya masih menginginkannya, berarti itu tandanya saya harus merogoh kantong saya.

Kita dapat menghemat banyak uang dengan cara menghabiskannya untuk membeli pakaian yang betul-betul akan kita pakai. Dengan cara mengambil waktu dan memikirkan ulang mengenai barang yang ingin kita beli dibandingkan sekedar pembelian impusif, Anda akan memiliki satu lemari yang penuh dengan pakaian yang sungguh-sungguh Anda sukai.

Membaca: 5 Tas dengan Harga Resale Tertinggi

Gaya Hidup Mode & Kecantikan