Membongkar 4 Kebiasaan Buruk Dari Orang Tua Soal Keuangan

Share this article with other mums

Buruk mengelola uang? Salahkan orang tua anda. Berdasarkan riset, kebiasaan buruk pengelolaan uang ternyata hasil dari pola asuh. Begini cara mengubahnya.

“Teman-teman bilang saya pelit, tapi beginilah saya,” ujar Kate. Seorang manajer di sebuah perusahaan teknologi informasi yang menerima gaji besar dan sanggup membiayai hidup mewahnya. Namun ia memutuskan menjalani hidup sederhana. Seperti Mark Zuckerberg, ia hanya punya beberapa pakaian. Tidak sepenuhnya seperti Zuckerberg, karena ia begitu pelit membeli sesuatu untuk dirinya sendiri. Ia selalu merasa bersalah setiap kali hang out bersama teman dan mengeluarkan uang. Kate juga masih tinggal di apartemennya yang sempit, yang ditinggalinya sejak masa kuliah. Padahal wilayah itu termasuk wilayah rawan kejahatan, namun ia tidak peduli.

Kate mengatakan bahwa sifat pelitnya adalah bagian dari karakter dirinya, namun menurut psikolog keuangan Brad Klontz, hal itu tidak terjadi sesederhana demikian.

“Kebohongan pertama yang kita katakan pada diri sendiri adalah bahwa masalah keuangan hanya datang kepada mereka yang gila, malas atau bodoh, jelas Klontz kepada Business Insider. “Hal ini sebetulnya dapat diprediksi berdasarkan bagaimana anda dibesarkan dan apa yang orang tua ajarkan pada anda.”

Orang tua kita bisa jadi cukup mampu dalam hal keuangan, namun banyak dari kita meneruskan kebiasaan buruk mereka. Menurut studi yang dilakukan Klontz, berikut adalah sejumlah kebiasaan buruk keuangan dari orang tua kita:

1. Uang bukan segalanya

Menurut riset, orang yang merasa tidak perlu uang cenderung berpikir bahwa orang baik itu mestinya tidak dinilai dari uang yang dimiliki dan memiliki uang secukupnya saja. Mereka bahkan berpikir bahwa orang kaya itu serakah dan kebanyakan orang kaya itu mengambil keuntungan dari orang lain.

2. Uang adalah segalanya

Di sisi lain, ada juga mereka yang begitu memuja uang dan segala sesuatu dapat dipecahkan dengan uang. Orang-orang ini selalu merasa tidak puas atas apa yang telah dimiliki dan mereka lebih percaya uang ketimbang orang-orang. Padahal kan mestinya kita menemukan titik keseimbangan. Tidak menjadikan uang segalanya, namun juga tidak memungkiri bahwa kita semua butuh uang.

3. Uang menentukan status

Orang-orang ini percaya bahwa status seseorang dinilai dari jumlah uang yang dimiliki. Oleh karena itu menurut mereka, orang-orang miskin tidak berhak kaya karena mereka adalah pemalas. Mereka meyakini bahwa orang-orang baik selalu punya uang. Mereka juga seringkali berpenampilan lebay untuk menunjukkan status kekayaannya.

4. Pelit atas uangmu

Orang dengan sifat ini biasanya sangat rahasia dan tidak terbuka mengenai keuangan mereka. Mereka juga super pelit dalam hal pengeluaran. Contohnya saja Crooge dan Kate. Padahal mereka orang yang punya banyak uang, namun mereka bahkan tidak membiarkan diri sendiri menikmati hasil jerih payahnya.

Menurut Klontz, langkah pertama untuk mengubah kebiasaan buruk ini adalah dengan menyadarinya. Tanyakan kepada diri anda sendiri:

  • Apa yang orang tua anda ajarkan tentang keuangan?
  • Apakah ingatan pertama anda berkaitan dengan keuangan?
  • Apakah hal yang paling menyakitkan yang anda ingat soal keuangan?
  • Apakah ketakutan terbesar anda soal uang?

“Dengan mengetahui jawabannya, anda akan membongkar pola-pola kebiasaan buruk tersebut,” papar Klontz kepada LifeHacker. “Contohnya, jika orang tua anda tidak pernah membicarakan soal keuangan, anda bisa jadi mengartikan bahwa hal itu memang tidak penting. Sementara itu, orang tua yang boros akan memengaruhi pola pikir anak. Anak akan berpikir bahwa membeli barang-barang akan membuat mereka lebih bahagia. Mereka menggunakan uang sebagai penolong emosi.”

Setelah anda mengidentifikasi kebiasaan keuangan anda dan bagaimana itu berdampak, anda bisa memulai langkah perubahan untuk keuangan yang lebih baik.

Uang Tabungan Perjalanan Hidup Orang tua